Minggu, 31 Juli 2016

[Review] Sylvia’s Letters

0


Judul : Sylvia’s Letters
Pengarang : Miranda Malonka
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2015
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 200 hal
Kategori : Romance, Young Adult,
Harga : Rp. 50.000,-
ISBN : 978-602-03-1525-6
Rating : 4/5
Bisa dibaca secara gratis melalui aplikasi @iJakarta

            Ada surat-surat yang takkan pernah dikirim. Ada surat-surat yang telah dikirim dan mungkin tak pernah dibaca penerimanya.
Hidup mengajari Sylvia tentang obsesi. Persahabatan mengajarinya tentang masalah. Dan Sylvia yakin semua orang bisa diselamatkan dari masalah hidup mereka.
Hingga ia bertemu dengan Anggara, yang mengajarinya tentang cinta yang melepaskan ikatan. Dan untuk pertama kalinya Sylvia menyadari bahwa ia tidak bisa menjadi penyelamat semua orang.
Terkadang peraturan keselamatan tidak lagi berlaku ketika berkaitan dengan obsesi dan cinta.

********

            Sejak dulu, saya selalu menyukai novel yang menggunakan alur cerita menggunakan surat. Baik itu dari surat tulisan tangan, e-mail, dokumen ataupun jurnal. Selalu ada kekuatan lain tersendiri jika mengikuti novel seperti itu. Dan, saya yang super gaptek ini baru tahu bahwa novel sejenis itu adalah novel Epistolari. Ugh, kebangetan deh saya baru tahu. Jadi, saya baru menyimpulkan bahwa novel Epistolari itu novel yang ditulis sebagai seri dokumen. Lebih jelas klik di sini.
            Saya terakhir membaca novel Epistolari adalah ketika membaca novel Dracula. Novel Dracula mengambil dokumen jurnal sebagai alur ceritanya. Dan, sudah jelas yang dipakai pada novel ini adalah surat. Surat yang ditulis Sylvia. Dari awal karena novel Epistolari adalah tipe novel kesukaanku, tidak diragukan lagi bahwa saya sangat menikmati membacanya. Saya suka membaca surat-surat Sylvia yang ditujukan untuk Anggara. Dalam suratnya, Sylvia bercerita bahwa dirinya jatuh cinta pada Gara—panggilan Sylvia untuk Anggara, kok saya jadi keingatan toko Gaara di Naruto xD—sejak menonton drama sekolah yang melibatkan Gara. Sylvia meluapkan semua perasaan dirinya pada Gara lewat surat-surat. Dan bukan satu atau dua kali Sylvia menulis suratnya. Banyak sekali.
            Sylvia tidak melulu menceritakan perasaannya pada Gara, Sylvia juga bercerita tentang semua kejadian sehari-hari yang dialaminya. Lewat suratnya Sylvia menceritakan semuanya pada Gara. Tentang sahabatnya, kesukaannya pada melukis dan keharusan dirinya untuk diet. Sylvia merasa bukan gadis yang spesial. Sylvia menganggap dirinya akan kurang jika disandingkan pada Gara yang sempurna. Jadi, satu-satunya yang dapat Sylvia lakukan adalah berdiet.
            Saya selalu tahu bahwa diet yang berlebihan itu berbahaya. Diet yang tidak pernah makan sampai berhari-hari. Seperti yang dilakukan para artis. Atau begitu yang saya tahu dari berita. Dan, sungguh disayangkan Sylvia mengalami hal itu. Sylvia merasa dirinya harus terlihat kurus dan kurus. Tidak peduli dengan anggapan orang sekitarnya yang mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak gemuk. Yang Sylvia tahu hanyalah makanan yang sudah masuk ke mulutnya harus dia muntahkan. Jujur, membaca surat Sylvia ini membuat saya belajar dari sudut pandang orang yang mengalami aneroksia. Saya selalu gagal paham kenapa orang bisa mengalami aneroksia. Jelas, walau saya selalu berniat diet ujungnya sih tetap makan seperti biasanya. Jadi, saya selalu bertanya-tanya kenapa aneroksia bisa menimpa seseorang. Sylvia tahu yang dilakukannya salah, memuntahkan makanan, selalu bilang kalau sudah turun sekian akan berhenti diet, nyatanya Sylvia tidak pernah bisa melakukannya. Sylvia selalu ketakutan dirinya terlihat gemuk. Sylvia dikenal oleh sahabat-sahabatnya sebagai seseorang yang ceria. Tapi, semenjak Sylvia mulai jatuh cinta pada Gara, Sylvia berubah. Sylvia terlalu mencintai Gara. Yah, sesuatu yang berlebihan itu tidak pernah baik.
            Tema novel ini sebenarnya sangat membuat depresi. Namun, karena dibuat secara epistolary membaca novel ini menjadi lebih menarik. Dan, walau banyak hal yang depresi, ketika sampai pada bagian surat Sylvia yang menceritakan bahwa dirinya sudah mulai mengobrol dengan Gara, rasanya seperti diguyur air dingin. Adem banget. Ikut bahagia untuk Sylvia. Akhirnya bisa juga dekat dengan sang tambatan hati. Mereka berdua ini manis banget.
            Kelemahan novel ini bukannya tidak ada. Karena surat yang ditulis dari Sylvia, ada beberapa bagian yang katakanlah susah dimengerti. Hal itu ditutup oleh penulis dengan kemunculan-kemunculan surat-surat lain yang ditulis oleh sahabat-sahabat Sylvia. Dan, suprise sekali ketika surat yang ditulis Gara muncul. Ah, semakin komplit menurutku.
            Jangan ragu untuk membaca novel ini. Karena aseli bagus banget. Membaca novel ini nggak bakalan nyesel. Selamat membaca.

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com